Resensi Buku Anak Semua Bangsa
Anak Semua Bangsa ini merupakan seri kedua dari tetralogi pulau buru buku karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang pribumi yang hidup pada penutup abad ke-19 hingga permulaan abad ke 20. Dimana mulai muncul teknologi-teknologi baru yang sebelumnya belum pernah ada bahkan belum pernah terbayangkan.
Jika di seri pertama Tetralogi pulau buru ini berisi tentang awal mula kemunculan- kemunculan konflik pada tokoh yang bernama minke ini. Bumi Manusia, Memang tidak ada manusia yang terlepas dari masalah entah besar atau kecil. Sedangkan di seri kedua ini menceritakan tentang perjalanan minke melakukan observasi ke bawah. Anak Semua Bangsa, Proses mengenal bangsa-bangsa yang ada di dunia.
Di mulai dengan Kesedihan yang berlarut-larut pasca kepergian Annelies. Sudah berhari-hari tidak ada yang keluar masuk rumah, semuanya larut dalam kepedihan. hingga pada suatu hari datang seorang polisi mengabarkan bahwa mereka tidak ditahan dan boleh keluar dari rumah, tetapi oleh Nyai Ontosoroh ia balik dimarahi sampai takut dan lari pergi dari rumah Nyai.
Disitu minke diajarin oleh Nyai Ontosoroh alias Sanikem tentang Azas. "kau harus bertindak terhadap sia- pa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekali pun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jende- la. Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu. Azasnya: mengambil milik tanpa ijin: pencurian; itu tidak benar, harus dilawan. Apalagi pencurian terhadap kebebasan kita selama be- berapa hari ini." Ucap Nyai Ontosoroh.
"Barangsiapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati."lanjutnya
Hal itu membuat minke terdiam dan teringat pada cincin emas bermata berlian,hadiah pernikahan dari Robert Suurhof. Kemudian ia masuk ke kamar dan tanpa sengaja membuka surat” yang ditujukan kepada istrinya, Annelies Mellema. Salah satunya dari Robert Suurhof yang ternyata berisi surat cinta untuk istrinya. Membuat minke semakin yakin tuk mengembalikan hadiah itu kepada pemiliknya.
Setelah itu, minke bergegas dan menyuruh marjuki meyiapkan bendi untuk pergi menuju rumah Suurhof. Namun saat diperjalanan ia bertemu teman-temannya waktu bersekolah di HBS, semuanya menyarankan untuk mengurungkan niatnya ke rumah Suurhof. Diketahui juga faktan bahwa cincin tesebut diperolehnya dari hasil mencuri di toko permata Ezekiel.
Hal tersebut tak lantas membuat semangat minke hilang ia tetap melanjutkan perjalanan dan sesampainya disana membuat ia prihatin dengan kondisi keluarga Surhof. Robert tak ada dirumah keluarga pun tak tahu entah kemana perginya.disana ia tak jadi menyerahkan cincin tersebut meski sudah dikeluarkannya dihadapan Bapak Robert Suurhof lantaran mereka takut dan menolak.
Kemudian ia berinisiatif untuk menyerahkannya kepada sekaut atau seorang polisi zaman hindia belanda. Disana ia menyerahkan bukti-bukti dan juga tanda-tanda keberadaan Robert Suurhof yang ia ketahui dari surat-surat yang dikirimkannya kepada istrinya, Juffrow Annelies Mellema. Hal itu membuat minke puas dan merasa dirinya telah menegakkan satu azas.
Tak hanya sampai disitu saja perjalanan seorang minke masih Panjang, dan unutk lebih bias menikmati dan menghayati cerita diperlukan untuk membaca bukunya Secara utuh. Bagian selanjutnya dai kisah ini berisi surat-surat dari Panji Darman alias Robert Jan Dapperste. Surat-surat menceritakan perjalanan ia menuji Netherland sewaktu membantu mengawasi Annelies selama diperjalanan.
Berita yang paling mencengangkan adalah kepergian Annelies untuk selamanya, tentu membuat hati minke dan mama sangat terpukul. Selain itu juga masih banyak cerita yang ada di dalam surat-surat panji Darman, banyak fakta-fakta baru yang mereka temui. Selain iu ia juga bertemu dengan gurunya sewaktu di HBS yaitu Magda Peters.
Pasca kepergian Annelies mereka kembali ke kehidupan semula, minke mulai membaca dan menulis lagi. Ada satu hal yang menarik perhatian dari bacaan-bacaan yang dibacanya yaitu tentang keperkasaan jepang sebagai bangsa Asia pertama yang mampu menyamai derajat orang-orang eropa.
Perselisihan dengan sahabat juga tak terhindarkan, Jean Marais seorang pelukis yang hebat menyarankan minke untuk menulis dengan Bahasa melayu atau jawa sebagai Bahasa dari bangsanya sendiri. Namun hal itu malah membuat minke marah. Seolah-olah ia dituduh tidak menganal bangsanya sendiri.
Selepas pertengkaran itu ia Bersama Nyai Ontosoroh berlibur ke Sidoarjo kampung halaman sanikem ke rumah adiknya. Disana ia menemukan fakta-fakta yang membuat ia menyadari bahwa ia tidak mengenal bangsanya sendiri. Selama ini ia hanya menikmati hidup sebagai kalangan atas tidak pernah merasakan pahitnya hidup sebagai orang pribumi biasa.
Masih Panjang cerita tentang perjalanan minka mungkin tak cukup untuk kuceritakan disini, bertemu dengan orang-orang baru Khow Ah Soe seorang buronan cina, Trunodongso seorang pribimi yang tananhnya dirampas , Surati seorang anak yang mengalami cerita hidup seperti Sanikem, dan lainnya.
Secara keseluruhan, "Anak Semua Bangsa" merupakan sebuah karya sastra yang luar biasa dengan nilai historis yang tinggi. Pramoedya Ananta Toer berhasil menggambarkan kehidupan dan perjuangan masyarakat Indonesia pada masa kolonial Belanda dengan penuh emosi dan kecerdasan. Buku ini wajib dibaca bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah Indonesia dan menikmati karya sastra yang mendalam dan memikat.

Posting Komentar untuk "Resensi Buku Anak Semua Bangsa "